Masa depan kemanusiaan terletak di beberapa tempat paling rentan di planet ini. Kita telah melihatnya secara jelas belakangan ini. Sebuah laporan PBB bulan lalu menyimpulkan populasi dunia semakin berkerumun. Mereka menghuni sekelompok megakota berpenghasilan menengah yang seringkali berada di dataran rendah. Jakarta dan Dhaka telah menggeser Tokyo sebagai kota terbesar di dunia. Masing-masing memiliki populasi sekitar 42 juta dan 37 juta jiwa.
Kota-kota seperti Meksiko dan Sao Paulo kini tergeser oleh Shanghai dan Kairo. Bangkok, Delhi, dan Karachi juga menjadi beberapa kota dengan pertumbuhan tercepat. Sayangnya, banyak wilayah ini baru-baru ini dilanda banjir yang mematikan. Sabuk muson dari Asia Tenggara hingga Afrika Barat menjadi episentrum masalah ini. Wilayah ini mengalami urbanisasi tercepat sekaligus peningkatan curah hujan paling dramatis.
Pertumbuhan Megakota di Sabuk Muson yang Rentan
Lebih dari 1.300 orang tewas dalam serangkaian badai yang melanda dari Sri Lanka hingga Vietnam. Lebih dari 750 korban jiwa terjadi di Sumatera Utara, Indonesia. Setidaknya 170 orang juga tewas di Thailand selatan. Peristiwa mengerikan ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebagian besar peradaban awal kita tumbuh di lembah sungai yang rentan terhadap banjir. Mitos tentang air bah yang hampir universal menjadi buktinya.
Di daerah pedesaan Asia Tenggara, rumah secara tradisional dibangun di atas tiang. Atapnya yang curam memungkinkan air mengalir dengan aman. Tradisi lokal seringkali melarang pembangunan di dekat sungai liar yang mudah meluap. Namun, kecanggihan teknologi vernakular ini sering kali tidak dihargai. Teknologi ini tidak cukup untuk mengatasi tantangan yang kita hadapi saat planet memanas. Perubahan iklim membuat semua prediksi lama menjadi tidak relevan.
Berikut adalah beberapa megakota dengan pertumbuhan tercepat dan populasinya yang berada di jalur rawan banjir:
Pengetahuan Lokal vs Tantangan Modern
Setiap kenaikan suhu lokal, kemampuan atmosfer untuk menahan uap air meningkat sekitar 7%. Ini adalah jumlah yang sangat besar. Bayangkan saja, sebuah siklon bisa dengan mudah menyimpan setengah miliar ton air. Pengetahuan lokal, seperti peta banjir modern, didasarkan pada pemahaman historis. Namun, pemanasan planet membuat semua prediksi lama itu usang.
Risiko terbesar ada di megakota yang terus berkembang. Populasi pedesaan saat ini sekitar 1,5 miliar jiwa. Jumlah ini hampir tidak akan tumbuh sebelum mengalami penurunan permanen pada 2040-an. Namun, dua pertiga pertumbuhan populasi hingga 2050 akan terjadi di kota-kota. Sekitar setengah dari satu miliar penduduk kota baru akan berada di tujuh negara. Sebagian besar negara ini terletak di sabuk muson Asia dan Afrika. Negara-negara tersebut adalah India, Nigeria, Pakistan, Republik Demokratik Kongo, Mesir, Bangladesh, dan Ethiopia.
Infrastruktur Tertinggal di Tengah Urbanisasi Pesat
Berbeda dengan penduduk pedesaan, migran kota jarang memiliki pilihan tentang tempat tinggal. Akibatnya, banyak permukiman kumuh dibangun di lahan berisiko. Contohnya adalah bukit yang rentan longsor di favela Brasil. Ada juga rawa-rawa yang menjadi lahan untuk kumuh di Dharavi, Mumbai, atau Khlong Toei, Bangkok. Sangat sedikit dari tempat-tempat ini yang memiliki kekayaan untuk menangani tantangan teknik. Mereka kesulitan membuat lingkungan bangunan yang tahan cuaca. Dari 1,8 miliar orang yang terancam banjir di seluruh dunia, hanya 11% yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi.
Banjir kota yang tragis jarang disebabkan oleh kemiskinan mutlak. Sebaliknya, ini seringkali menjadi hasil dari pembangunan yang gagal. Pembangunan tidak mampu mengimbangi masalah yang ditimbulkannya. Kota-kota ini menarik orang dengan begitu cepat. Akibatnya, infrastruktur tidak mampu bergerak dengan kecepatan yang sama. Banjir paling merusak pekan lalu di Thailand terjadi di Hat Yai. Ini adalah tujuan wisata dan perbelanjaan yang ramai dekat perbatasan Malaysia. Di Sri Lanka, ibu kota yang berkembang pesat, Kolombo, adalah yang paling parah terkena dampaknya.
Hal ini menempatkan tanggung jawab yang berat pada pemerintah kota dan nasional. Semua pihak mengandalkan kota sebagai mesin pertumbuhan. Namun, mereka harus bekerja keras menghadapi bencana alam. Ancaman ini akan terus-menerus mengancam untuk menghancurkan tatanan urban. Pusat-pusat besar India, yang tercekik oleh kekurangan air dan polusi, menunjukkan apa yang bisa terjadi. Itu adalah contoh nyata ketika urbanisasi mulai gagal. Sungai dan garis pantai telah lama menjadi sumber kehidupan kota-kota besar. Namun, kini naiknya permukaan laut dan banjir yang dahsyat membuat tempat-tempat itu tidak lagi layak huni. Kita harus menghadapi kemungkinan bahwa atribut yang memberi kehidupan itu bisa juga menjadi kehancuran mereka.