Dunia berita hiburan sempat dihebohkan oleh sebuah kontroversi. Bintang reality show, Whitney Leavitt, dan partnernya, Mark Ballas, harus tersingkir dari Dancing With the Stars. Kepergian mereka terjadi di babak semi-final. Padahal, mereka selalu mendapatkan nilai tinggi dari juri. Alhasil, banyak penggemar yang merasa keputusan ini sangat mengejutkan.
Akhirnya, keduanya buka suara di podcast “Call Her Daddy”. Mereka mengungkapkan kekecewaan dan dampak dari kebencian online yang mereka terima. Lebih dari itu, mereka juga menampilkan sebuah freestyle dance yang seharusnya menjadi penampilan mereka di final. Ini adalah kisah lengkap di balik eliminasi yang memicu perdebatan sengit.
Menghadapi Kritik dan Membela Bakat
Di hadapan Alex Cooper, tuan rumah podcast, Whitney Leavitt angkat bicara. Ia menanggapi kritik yang menyebutnya terlalu berpengalaman. Leavitt memang memiliki gelar dalam modern dance dari Universitas Brigham Young. Namun, ia menegaskan bahwa gaya menari di DWTS sangat berbeda.
“Menari dengan pasangan seperti ini sangat baru bagi saya,” kata Leavitt. “Tentu saja, latar belakang membantu mempelajari teknik. Tapi ini tetap sangat baru.” Ia juga menjelaskan bahwa ia sudah tidak aktif menari setelah memiliki tiga anak. Ia hanya sesekali mengikuti kelas untuk bersenang-senang.
Di sisi lain, Mark Ballas membela partnernya. Ia menyoroti kemampuan alami Leavitt sebagai seorang performer. “Dia adalah performer yang dinamis. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa saya ajarkan,” puji Ballas. Ia juga mencontohkan pemenang sebelumnya seperti Nicole Scherzinger dan Jordan Fisher. Mereka juga memiliki pengalaman menari. Menurutnya, penggemar lebih menyadarinya pada Leavitt karena bakat alaminya yang sangat menonjol.
Dampak Mengerikan dari Kebencian Online
Percakapan tersebut kemudian berubah menjadi lebih emosional. Mark Ballas berbagi bagaimana kebencian online mempengaruhinya secara pribadi. Ia mengungkapkan bahwa ini adalah musim terburuknya selama berkarier di Dancing With the Stars.
Ballas mengaku belum pernah melihat penggemar berkumpul. Mereka memilih untuk memilih semua pasangan lainnya hanya untuk menyingkirkan mereka. Ia bahkan menjadi emosional saat membaca komentar kebencian yang ditujukan padanya. Seseorang menyebutnya “tidak berguna” dan berharap ia masuk neraka.
“Saya tidak mendaftar untuk menerima kebencian seperti itu,” ujar Ballas dengan suara bergetar. “Saya hanya ingin berada dalam kompetisi menari yang menyenangkan. Kompetisi yang bisa membawa kegembiraan bagi orang lain.”
Leavitt mengaku sudah terbiasa dengan kebencian di dunia maya. Namun, ia merasa sangat terpukul melihat Ballas mengalaminya untuk pertama kali. “Saya terpicu melihatnya menerima komentar menyakitkan,” katanya. Ketika ditanya apa pesannya untuk para pembenci, jawabannya singkat dan tegas. “Saya tidak tahu, karena yang ingin saya katakan adalah ‘F—k you’,” jawabnya sambil tertawa.
Tabel: Tudangan vs. Fakta Seputar Eliminasi
Freestyle yang Terlewat: Sebuah Pembuktian
Salah satu penyesalan terbesar penggemar adalah tidak melihat freestyle dance mereka. Penampilan bebas ini adalah salah satu yang paling dinantikan setiap musim. Namun, karena eliminasi dini, itu tidak pernah terjadi.
Sebagai gantinya, podcast “Call Her Daddy” dan ABC membangun sebuah panggung khusus. Leavitt dan Ballas akhirnya menampilkan freestyle dance mereka. Mereka menari dengan indah mengikuti lagu “My Way” milik Frank Sinatra.
Leavitt tampil memukau dengan kostum showgirl. Ia kemudian melepas bagian luarnya, memperlihatkan leotard berkilau. Pada satu titik, ia dengan dramatis mengoleskan lipstik merah ke wajahnya. Penampilan mereka berakhir dengan pesan yang tertulis di layar. Pesan itu berbunyi, “Media sosial itu buruk bagi kesehatan Anda.”
Pada akhirnya, trofi Mirrorball dimenangkan oleh Robert Irwin dan partnernya, Witney Carson. Namun, Whitney Leavitt dan Mark Ballas telah menciptakan momen mereka sendiri. Mereka membuktikan bakat mereka sekaligus menyampaikan pesan penting tentang bahaya kebencian di dunia maya.