Provinsi Sumatera Utara (Sumut) diguncang bencana dahsyat. Cuaca ekstrem memicu banjir dan tanah longsor di empat kabupaten. Peristiwa ini terjadi pada Senin (24/11) dan Selasa (25/11). Empat kabupaten tersebut menjadi korban amukan alam. Wilayah itu meliputi Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Hujan deras yang turun terus-menerus menjadi penyebab utamanya. Durasi hujan mencapai lebih dari dua hari. Akibatnya, kondisi darurat pun terjadi di berbagai wilayah.
Dampak Parah di Sibolga dan Tapanuli Selatan
Di Kabupaten Sibolga, banjir mengalir cukup deras. Arus air menghantam rumah warga dengan keras. Bahkan, kendaraan dan infrastruktur lain ikut terseret. Air juga membawa material berbahaya. Material itu terdiri dari lumpur, batang pohon, dan puing bangunan. Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di banyak kelurahan. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Sibolga Utara, Sibolga Selatan, dan Sibolga Kota. Akibatnya, satu warga mengalami luka-luka. Tim kesehatan segera memberikan perawatan korban. Sementara itu, kerugian material mulai terhitung. Tiga unit rumah dan satu ruko terdampak. Akses jalan juga terganggu, sehingga menghambat mobilisasi warga.
Di sisi lain, dampak jauh lebih tragis terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan. Bencana di wilayah ini menelan korban jiwa. Delapan warga dilaporkan meninggal dunia. Tak hanya itu, 58 warga lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 2.851 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Data sementara menunjukkan 11 kecamatan terdampak. Kecamatan itu antara lain Sipirok, Marancar, dan Batangtoru. Wilayah lain yang ikut terdampak adalah Angkola Barat dan Muara Batangtoru. Kondisi ini menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi warga setempat.
Berikut adalah ringkasan dampak bencana di setiap kabupaten:
Tapanuli Utara dan Tengah Juga Tak Luput
Tak hanya itu, bencana juga melanda Tapanuli Utara. Di kabupaten ini, tercatat 50 unit rumah terdampak. Dua jembatan vital juga putus akibat banjir dan longsor. Kondisi ini memutus akses antar wilayah. Warga kesulitan untuk beraktivitas. Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Tengah, jumlah rumah terdampak jauh lebih besar. Sebanyak 1.902 unit rumah terendam banjir. Wilayah ini meliputi sembilan kecamatan. Kecamatan terdampak antara lain Pandan, Sarudik, dan Badiri. Kecamatan Kolang, Tukka, dan Lumut juga ikut terendam. Barus, Sorkam, dan Pinangsori tidak luput dari terjangan air. Warga di sana juga mengalami hal yang sama.
Respons Cepat BNPB dan Imbauan Waspada
Merespons situasi ini, BNPB langsung bergerak cepat. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB terus memonitor perkembangan. Mereka berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Tujuannya adalah untuk mempercepat penanganan darurat. Bantuan dan evakuasi menjadi prioritas utama. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memberikan keterangan. Ia menyampaikan imbauan penting kepada masyarakat. “BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Pihaknya memperingatkan potensi cuaca ekstrem masih dapat berlangsung. Ancaman ini bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi bencana susulan. Mereka juga harus mengikuti arahan dari petugas di lapangan. Kesigapan dan kesiapsiagaan adalah kunci utama keselamatan. Semua pihak harus bahu-membahu menghadapi cobaan ini. Solidaritas dan gotong royong menjadi fondasi untuk bangkit.
